Skip to main content
Ilustrasi Dakwah Mengajarkan Al Quran

5 Kebiasaan Mulia Para Ulama yang Patut Diteladani Setiap Pengemban Dakwah

Siapa yang tidak mengenal ulama? Pujian untuk mereka bertebaran — dari firman Allah hingga sabda Rasulullah SAW. Mereka bukan nabi, bukan pula sahabat. Namun kedudukan mereka di sisi Allah dan Rasul-Nya sungguh istimewa, bahkan melampaui banyak golongan manusia lainnya.

Allah SWT. dengan tegas menyebut para ulama sebagai hamba-Nya yang paling dalam rasa takutnya kepada-Nya:

"…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama…" (QS. Al-Fathir: 28)

Allah juga menjanjikan pengangkatan derajat bagi mereka yang berilmu, jauh di atas mereka yang tidak. Dan dari lisan Rasulullah SAW. yang mulia, kita mendengar perumpamaan yang begitu indah sekaligus menggugah:

"Sesungguhnya perumpamaan orang alim dibandingkan ahli ibadah laksana keunggulan bulan pada malam purnama di atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi…" (HR. Abu Dawud)

Bayangkan — bulan purnama dengan cahayanya yang memenuhi langit, berbanding bintang-bintang kecil yang meski indah, cahayanya tak mampu menandingi. Begitulah ulama di antara manusia lainnya. Masya Allah!

DAFTAR ISI

Dan keistimewaan itu tidak berhenti di dunia. Di Hari Kiamat, ketika manusia berdiri dalam kebingungan dan kecemasan, Rasulullah SAW. menjanjikan:

"Yang memberikan syafaat pada Hari Kiamat ada tiga golongan; para nabi, lalu ulama, kemudian syuhada." (HR. Ibnu Majah)

Tentu ada alasan besar di balik semua pujian dan keistimewaan ini. Ada karakter, ada kebiasaan, ada habit yang tertanam dalam diri para ulama — sesuatu yang melampaui kesalehan orang kebanyakan. Imam Ahmad, misalnya, dikabarkan tidak pernah satu malam pun melewati hidupnya tanpa qiyamul lail, dengan beratus-ratus rakaat yang dikerjakan dalam kekhusyukan mendalam.

Keberanian mereka pun tak tertandingi. Kisah Abu Hanifah menegakkan kebenaran menyongsong ajalnya di balik jeruji penjara, dalam usia yang sudah lanjut, dalam keadaan tetap teguh mengucapkan kalimat haq di hadapan penguasa zalim. Beliau wafat setelah diracun — bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh tangan-tangan penguasa yang tak tahan dengan keteguhannya.

Inilah para ulama. Dan tidak ada kerugian sedikit pun bagi para pengemban dakwah untuk meneladani jejak langkah mereka. Sebab mereka adalah pewaris para nabi — senantiasa bertebaran mutiara ajaran Islam dalam setiap gerak dan diamnya.

Berikut lima kebiasaan mulia para ulama yang sudah sepatutnya menjadi cermin amal bagi setiap pengemban dakwah.


1. Tak Pernah Berhenti Memburu Ilmu

Tidak ada ulama sejati yang berhenti haus pada ilmu. Mereka memahami dengan sangat baik bahwa ilmu adalah pilar tegaknya agama ini. Ilmu adalah syarat mutlak untuk meraih keberhasilan dunia, terlebih kebahagiaan akhirat.

Imam an-Nawawi pernah berujar dengan kalimat yang begitu padat dan menghunjam:

"Siapa yang ingin mendapatkan bagian dunia maka wajib atasnya ilmu. Siapa yang ingin mendapatkan akhirat maka wajib atasnya ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya, wajib atasnya ilmu."

Penelusuran kisah para ulama dan ilmu akan membuat kita tercengang, takjub, lalu malu pada diri sendiri. Kita belum ada apa-apanya dibandingkan himmah — semangat membara — para ulama dalam mengejar ilmu.

Pernahkah kita melakukan apa yang dilakukan seorang alim bernama Ibnu Thahir al-Maqdisy? Beliau berkata:

"Aku dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits — sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah. Aku berjalan bertelanjang kaki di bawah terik matahari, tidak berkendaraan, sambil memanggul kitab-kitab di punggungku."

Subhanallah. Dua kali kencing darah karena kelelahan menuntut ilmu — dan itu bukan keluhan, itu adalah kenangan yang diceritakan dengan bangga.

Mengantuk di majelis ilmu? Ini resep Ibnu Jahm: beliau justru membuka buku ketika rasa kantuk datang — dan kantuk itu pun pergi seketika.

Ironi besar bila kita ingin dicatat sebagai pengemban dakwah, namun enggan menanggung sedikit saja kepayahan mencari ilmu. Mudah mencari alasan untuk tidak hadir di liqo', bersemangat absen dari majelis ilmu yang tidak diwajibkan. Jauh sekali dari habit para ulama.

Bahkan dalam soal harta, para ulama tidak pelit untuk ilmu. Al-Hafidz Abul 'Alaa al-Hamadzaaniy menjual rumahnya seharga 60 dinar — hanya untuk membeli kitab-kitab Ibnul Jawaaliiqy. Rumah ditukar buku. Bagi kita mungkin terdengar tidak masuk akal. Bagi mereka, itu adalah investasi terbaik.

Masihkah kita malas hadir di majelis ilmu? Pikirkan lagi, seberapa serius kita menanggung amanah dakwah ini.

reguler 25 04 17

2. Giat dan Serius Dalam Beribadah

Ada paradoks yang menyedihkan: pengemban dakwah yang malas mengerjakan ibadah wajib dan melalaikan amalan sunnah. Bagaimana mungkin kita mendakwahkan agama Allah, mengharapkan pertolongan-Nya, sementara kita sendiri menjauh dari-Nya?

Para ulama adalah sosok yang begitu lekat dengan amal ibadah — baik yang fardhu maupun yang sunnah. Dalam hal yang sederhana sekalipun, seperti shalat berjamaah, mereka sangat serius.

  • Said bin Abdul Aziz selalu menangis setiap kali tertinggal shalat berjamaah.
  • Sa'id ibn al-Musayyab selama empat puluh tahun penuh selalu mengerjakan shalat di masjid, tanpa terputus.
  • Al-A'masy selama hampir tujuh puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihram ketika shalat berjamaah.

Tujuh puluh tahun. Bukan tujuh hari, bukan tujuh bulan. Tujuh puluh tahun.

Dan kualitas ibadah mereka pun bukan ibadah asal-asalan. Saib bin Yazid meriwayatkan:

"Umar bin al-Khaththab memerintahkan Ubay bin Ka'b dan Tamim Ad-Dariy untuk mengimami shalat malam (Ramadhan) dengan sebelas rakaat. Sang imam membaca ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar."

Ratusan ayat dalam satu rakaat. Berdiri sepanjang malam hingga fajar. Begitulah kualitas ibadah para ulama. Giat beribadah dan istiqamah dalam ketaatan bukan sekadar slogan bagi mereka — ia adalah napas kehidupan.


3. Tidak Berdamai dengan Kemungkaran

Para ulama bukan orang yang bersembunyi nyaman di balik tumpukan kitab, diam saat kemungkaran merajalela. Justru sebaliknya — mereka berdiri di garis terdepan menyuarakan kebenaran, secara terbuka, tanpa berselubung ketakutan.

Mereka memahami kewajiban taat kepada pemimpin. Namun mereka juga tidak sungkan mengkritik secara terbuka ketika pemimpin melenceng dari kebenaran.

Imam Ahmad bin Hanbal dengan berani mengoreksi Khalifah al-Ma'mun yang mengadopsi pendapat Mu'tazilah — menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Imam Ahmad dan sejumlah ulama berdiri kukuh menentang pendapat tersebut. Risikonya? Penjara dan siksaan. Tapi mereka tidak bergeming.

Imam Abu Hanifah pun pernah menolak jabatan yang ditawarkan Abu Ja'far al-Manshur, sekaligus menolak uang 10.000 dirham yang hendak diberikan kepadanya. Seseorang bertanya kepadanya:

"Apa yang Anda berikan kepada keluarga Anda? Bukankah Anda sudah berkeluarga?"

Beliau menjawab tenang:

"Keluargaku kuserahkan kepada Allah. Sebulan aku cukup hidup dengan 2 dirham saja."

Akibat penolakannya, beliau dipenjarakan dan disiksa meski usianya sudah lanjut. Namun beliau memilih dinginnya penjara ketimbang mengotori dirinya dengan kemungkaran.

Keberanian ulama dalam menegakkan amar makruf nahyi munkar adalah warisan berharga yang menunggu untuk kita teladani.

 

takhosus 25 04 17

 

4. Rendah Hati di Hadapan Kebenaran

Suatu ketika, Imam Abu Hanifah menegur seorang anak kecil yang sedang bermain tanah:

"Hati-hati, Nak — engkau bisa tergelincir."

Tapi sang anak kecil itu — yang rupanya mengenal siapa yang ada di hadapannya — justru balik memberikan nasihat yang lebih menghunjam:

"Andalah yang harus lebih berhati-hati dari kejatuhan. Karena jatuhnya seorang alim adalah kejatuhan bagi dunia!"

Masya Allah. Sejak saat itu, Imam Abu Hanifah dikabarkan selalu sangat berhati-hati setiap kali hendak mengeluarkan fatwa.

Inilah ulama sejati. Mereka paham bahwa tinggi hati adalah musuh ilmu dan kebenaran — seperti air yang tidak pernah bisa mendaki ke dataran tinggi. Kebenaran hanya mengalir kepada hati yang rendah.

Pengemban dakwah tidak perlu menunggu tokoh besar untuk menunjukkan kesalahannya. Terkadang kawan seiringan — bahkan yang tampak berada "di bawah" — bisa menjadi cermin yang paling jujur. Merendahkan hati dan menerima nasihat adalah tanda kematangan seorang dai, bukan kelemahan.

Berani menyampaikan kebenaran, tapi rendah hati saat menerima kebenaran. Itulah keseimbangan yang indah dari karakter ulama.


5. Rasa Takutnya Hanya Kepada Allah

Seperti yang Allah sifatkan sendiri dalam Al-Qur'an, ulama adalah manusia yang paling dalam rasa takutnya kepada Allah — dan rasa takut itu bukan slogan, bukan penghias ceramah. Ia nyata, mengalir dalam air mata dan menghiasi malam-malam panjang mereka.

Ka'ab bin al-Ahbar pernah berkata:

"Sesungguhnya mengalirnya air mataku hingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas sebesar tubuhku."

Air mata yang lahir dari takut kepada Allah — lebih dicintai daripada emas sebesar tubuh. Betapa dalamnya penghayatan mereka.

Dan rasa takut itu mengalir ke mana pun mereka berada. Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu suatu hari berkhutbah di Bashrah, menceritakan tentang neraka. Beliau pun menangis — dan air matanya membasahi mimbar. Pada hari itu, seluruh hadirin pun turut menangis dengan tangisan yang amat dalam.

Subhanallah. Bukan karena suasana yang dibuat-buat. Tapi karena hati yang benar-benar hidup dan takut kepada Allah.

Rasa takut kepada Allah sebagai fondasi amal inilah yang menjaga seorang pengemban dakwah tetap tulus — bukan mencari tepuk tangan manusia, melainkan ridha Allah semata.


Jadikan Ini Cermin Diri

Ini baru sekelumit dari lautan karakter para ulama. Belum kita bicara tentang kesederhanaan hidup mereka, kedermawanan, kelembutan, penghormatan kepada yang lebih tua, dan masih banyak lagi mutiara yang menghiasi perjalanan hidup mereka.

Ayyuhasy syabab! Wahai para pemuda, wahai para pengemban dakwah — miliki sifat-sifat ulama ini dalam diri kita. Agar Allah memudahkan pertolongan-Nya kepada kita dan kepada dakwah yang tengah kita emban.

Miliki keyakinan seperti keyakinan para ulama: bahwa tidak ada yang mampu memberikan pertolongan sejati melainkan hanya Allah. Dialah tujuan kita saat kembali. Dialah tempat kita meminta segala kebaikan dan kebahagiaan — di dunia maupun di akhirat.

Semoga Allah jadikan kita semua bagian dari hamba-hamba-Nya yang mewarisi jejak para ulama. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Diadaptasi dari tulisan Ustadz Iwan Januar, yang dimuat di iwanjanuar.com, pada 1 Desember 2015.

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Setelah Membaca Ini, Satu Pertanyaan Menggantung di Hati Kita

"Kapan giliran kita — dan anak-anak kita — benar-benar duduk bersama Al-Qur'an?"

Bukan sekadar membaca. Bukan sekadar mendengar. Tapi tenggelam di dalamnya — hingga hati terasa dicuci bersih.

Para ulama yang kita kagumi itu tidak lahir tiba-tiba menjadi besar. Ada momen-momen sunyi dalam hidup mereka — momen ketika mereka memilih Al-Qur'an di atas segalanya. Dan dari momen itulah, segalanya berubah.

Momen itu bisa dimulai hari ini. Untuk Anda. Untuk putra-putri Anda.

Program Dauroh Al-Qur'an "Healing with Qur'an" hadir bukan untuk menambah jadwal yang sudah padat — tapi justru untuk menjeda sejenak, menarik napas, dan kembali kepada yang paling pokok.

Di ketinggian Puncak Bogor yang sejuk. Di bawah bimbingan Syaikh As'ad Humam Lc., Al-Hafidz — alumni Al-Azhar Kairo, pewaris sanad Al-Qur'an 30 juz. Satu hingga empat puluh hari — sesuai kemampuan dan kebutuhan Anda.

📲 Info lanjut: 🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran 📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573

Siapa tahu, inilah titik balik yang selama ini Anda — dan si buah hati— tunggu-tunggu.


quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2026