Skip to main content
Suasana santri remaja membaca Al-Qur’an setelah salat

Peluang Pendekatan Sufistik untuk Kesehatan Mental Remaja

Data I-NAMHS soal krisis mental remaja, lalu peluang pendidikan spiritual sufistik—taubat, zuhud, mahabbah, zikir—sebagai pelengkap.

 

DAFTAR ISI

Ketika Angka Menjadi Isyarat Darurat

Ada masa ketika sebuah angka tidak lagi sekadar angka. Ia berubah menjadi isyarat—seperti lampu kuning di perempatan: “Pelan. Ada bahaya.” Begitulah kita membaca fenomena kesehatan mental remaja di Indonesia hari ini. Ia semula terdengar seperti kabar jauh, lalu pelan-pelan mendekat; kini ia mengetuk pintu rumah, sekolah, masjid, dan ruang-ruang kecil keluarga.

Krisis ini bukan sekadar urusan “anak sedang sensitif” atau “remaja lagi galau.” Ia menyentuh akar: daya tahan jiwa, keteguhan berpikir, kemampuan belajar, juga cara generasi muda memandang hidup—termasuk memandang Allah, memandang diri, dan memandang masa depan. Maka, membicarakan kesehatan mental remaja bukan berarti kita sedang memanjakan kelemahan; justru kita sedang menjaga amanah.

Di sinilah pentingnya memadukan dua hal: ketelitian sains (agar kita tidak menyepelekan gejala) dan kehangatan spiritual (agar kita tidak membiarkan jiwa berjalan sendirian).

Data I-NAMHS: Potret Besar yang Tak Bisa Diabaikan

Remaja muslim mengaji bersama di area masjid

Gambar: Remaja muslim mengaji bersama di area masjid

Survei nasional Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menyingkap kenyataan yang membuat kita harus berhenti sebentar, menarik napas, lalu berkata: “Ini serius.” Dalam 12 bulan terakhir, sekitar 34,9% remaja usia 10–17 tahun mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental—setara kira-kira 15,5 juta anak dan remaja. Gangguan yang muncul beragam: depresi, kecemasan, trauma, masalah perilaku, hingga gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).

Dari seluruh temuan itu, sekitar 5,5% remaja memenuhi kriteria gangguan mental klinis, dan gangguan kecemasan muncul sebagai diagnosis yang paling dominan. Menariknya, pola gejalanya memperlihatkan perbedaan yang perlu dibaca dengan bijak: remaja perempuan lebih sering dilanda kecemasan, sementara remaja laki-laki lebih rentan menunjukkan gejala hiperaktivitas.

Jika diibaratkan, ini seperti melihat hamparan ladang: sebagian besar tanaman tampak “baik-baik saja” dari jauh, tetapi ketika kita mendekat, ada tanda kekeringan di pucuk daun—dan beberapa tanaman sudah butuh pertolongan segera. Banyak remaja mungkin masih bisa tertawa, masih bisa sekolah, masih bisa bercanda; namun di dalamnya, ada yang diam-diam berkabut.

Yang Lebih Mengkhawatirkan: Sedikit yang Mengakses Pertolongan

Ada satu angka lain yang membuat dada terasa sempit: hanya sekitar 2,6% remaja yang mengakses layanan kesehatan mental dalam setahun terakhir. Artinya, mayoritas berusaha bertahan sendiri: memendam, menutup rapat, atau mengobati luka batin dengan cara yang belum tentu menolong.

Di banyak keluarga, “kuat” sering disalahpahami sebagai “diam.” Padahal, diam tidak selalu kuat. Kadang diam hanya cara seseorang bertahan agar tidak runtuh di hadapan orang lain.

Mengapa aksesnya rendah? Di lapangan, kita sering menemui tiga tembok besar:

  1. Stigma sosial: takut dicap “kurang iman,” “lemah,” atau “cari perhatian.”

  2. Literasi rendah: orang tua/pengasuh bingung membedakan fase remaja biasa dengan gejala yang perlu bantuan.

  3. Akses layanan terbatas: tidak semua daerah punya layanan yang ramah remaja, terjangkau, dan aman secara sosial.

Maka, masuk akal bila banyak pengasuh memilih “menangani sendiri”—bukan karena yakin mampu, tetapi karena tidak tahu harus melangkah ke mana.

Peluang Pendekatan yang Lebih Dekat: Nilai Islam dan Jalan Sufistik

Di tengah lanskap ini, terbuka peluang menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif, kontekstual, dan mudah dijangkau. Dengan Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar—sekitar 87% penduduknya beragama Islam—pendekatan kesehatan mental yang berakar pada nilai-nilai Islam dan pendidikan spiritual sufistik dapat menjadi jembatan yang terasa akrab bagi banyak keluarga.

Namun, penting ditegaskan sejak awal: pendekatan spiritual bukan untuk meniadakan layanan profesional. Ia lebih tepat dipahami sebagai penguat, penopang, dan penjernih—agar remaja punya “pegangan batin” saat menjalani ikhtiar medis/psikologis, dan agar keluarga punya bahasa yang mereka pahami untuk memulai pertolongan.

Di tingkat global, WHO sendiri menegaskan kesehatan mental remaja adalah isu besar: “satu dari tujuh” remaja usia 10–19 mengalami gangguan mental, dan depresi-kecemasan termasuk penyebab utama disabilitas pada remaja.
Artinya: ini bukan “tren lebay,” melainkan tantangan nyata lintas bangsa—dan kita perlu respons yang juga nyata.

Benih Ketenangan: Zikir sebagai Ruang Bernapas Jiwa

Dalam tradisi Islam, ketenangan bukan sekadar suasana hati—ia bisa menjadi latihan. Salah satu pijakannya terang:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini bukan “mantra instan.” Ia lebih mirip pintu: siapa yang mengetuknya dengan istiqamah, ia akan merasakan ruang batin yang lebih lapang. Dalam konteks remaja, zikir dan kedekatan dengan Al-Qur’an dapat menjadi ritme yang membantu menstabilkan gejolak—tentu sambil tetap memperhatikan kebutuhan klinis bila gejalanya berat.

Pendidikan Spiritual Sufistik: Definisi yang Menyentuh Inti

Pada bagian ini, naskah asli menghadirkan beberapa definisi penting—dan saya pertahankan ruh serta istilah kuncinya.

Ahmad Suhailah menjelaskan pendidikan spiritual sebagai penanaman cinta Allah di dalam hati peserta didik sehingga ia mengharapkan ridha Allah SWT dalam ucapan, perbuatan, sikap, dan tingkah laku, lalu menjauhi hal-hal yang menyebabkan murka-Nya (Aziz, 2017).

Sementara Abu Bakar Aceh mendefinisikan pendidikan spiritual sebagai upaya mencari hubungan dengan Allah melalui proses pendidikan dan latihan sehingga seseorang dapat menemui (liqa) dan mempersatukan diri dengan Tuhan-Nya (Supriaji, 2019).

Adapun Mudlofir menekankan pendidikan spiritual dalam Islam sebagai pembersihan jiwa menuju Allah SWT:
dari jiwa kotor menuju jiwa bersih; dari akal yang belum tunduk kepada syariat menuju akal yang sesuai syariat; dari hati keras dan berpenyakit menuju hati tenang dan sehat; dari roh yang lalai menuju roh yang mengenal (arif) kepada Allah SWT; dari fisik yang abai menuju fisik yang memegang aturan syariat Allah SWT (Mudlofir, 2011).

Jika disarikan: pendidikan spiritual berbasis sufistik adalah ikhtiar sadar untuk menanamkan cinta kepada Allah SWT, mengenalkan asma dan keagungan-Nya, lalu melatih pembersihan jiwa—hingga lahir jiwa yang lebih suci, akal yang bercahaya, akhlak yang mulia, dan badan yang lebih tertib dan sehat. Inilah yang, menurut Rohman, menjadi buah dari hubungan kokoh dengan Allah SWT: ridha, pasrah, dan yakin pada pertolongan, hidayah, serta taufik-Nya (Rohman, 2017).

Bagi remaja, bahasa seperti ini sering terasa “rumah.” Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak. Ia tidak memaksa cepat, tetapi menuntun pelan. Ia tidak memutus masalah dari iman, tetapi juga tidak menyuruh menutup mata dari realitas.

Strategi Pendidikan Spiritual Berbasis Sufistik: Jalan Bertahap (Manzilah)

Nazar (dalam Suhendi, 2017) merinci strategi pendidikan spiritual berbasis sufistik melalui beberapa manzilah—tahap-tahap yang bisa dipahami sebagai “tangga latihan,” bukan tuntutan kesempurnaan.

1) Manzilat al-taubat

Tahap meninggalkan yang haram, menunaikan kewajiban, dan mengutamakan kebaikan. Taubat di sini bukan hanya penyesalan, melainkan keberanian untuk kembali pulang—setelah lama jiwa merasa jauh. Ini selaras dengan latihan muhasabah: menengok diri tanpa membenci diri.

2) Manzilat al-zuhd

Zuhd bukan anti-dunia, melainkan menempatkan dunia secara proporsional. Remaja tidak dilarang punya mimpi; ia hanya diajak agar mimpi tidak menjadi berhala. Tahap ini juga mengajarkan kehati-hatian dari yang syubhat—yang sering kali menyusup lewat kebiasaan kecil.

3) “Permusuhan dengan diri” (melawan nafsu berlebih)

Istilah ini terdengar keras, tetapi maksudnya: jangan menjadi budak dorongan nafsu yang liar. Remaja diajak melatih kontrol diri—mendengar suara nafsu seperlunya, namun tetap mengoreksi, mengawasi, dan menuntun jiwa agar tunduk kepada perintah Allah SWT.

4) Manzilat al-mahabbah (cinta) dan qurbah (kedekatan)

Ini tahap yang lebih halus. Bila tiga tahap sebelumnya seperti “berjalan menuju Allah,” tahap mahabbah dan qurbah seperti “menatap Allah dengan cinta.” Bukan mengejar kekuasaan, sebab kekuasaan hakikatnya milik Allah SWT. Remaja yang belajar mahabbah biasanya lebih mudah mengelola luka: ia merasa dicintai, sehingga tidak perlu mencari pengganti cinta dalam tempat yang merusak.

5) Manzilah memerangi hawa nafsu

Gambar: Tasbih sebagai simbol zikir yang berulang dan menenangkan

Caranya ditempuh dengan khudu (ketundukan), tadarruj (bertahap), dan khashyah (takut yang menumbuhkan adab). Perhatikan kata “bertahap”—ini penting untuk remaja: perubahan yang paling awet biasanya tidak meledak-ledak, tetapi konsisten.

6) Manzilah ketersingkapan hijab Ketuhanan

Maknanya: hamba merasa diawasi Allah SWT—dalam sendiri maupun ramai—melalui muraqabah. Ia tekun dalam tadarru’ (ibadah) dan kekhusyukan.

7) Manzilah penampakan keagungan Ilahi

Ini digambarkan sebagai saat hamba mengalami tajalli: tersingkapnya hijab, hadirnya rasa heran dan kebingungan di samudera makrifat—hingga ia “tidak tahu sama sekali tentang keberadaannya” dan dipandang Allah dengan penampakan-Nya. Pada titik ini, narasi asli menyebut hamba itu menjadi bagian dari “tiang-tiang bumi” (autad al-ard).

Sebagian orang mungkin membaca tahap-tahap akhir ini sebagai pengalaman yang sangat tinggi. Benar. Tetapi untuk kebutuhan pendidikan remaja, kita bisa mengambil hikmahnya tanpa memaksa mereka “harus sampai sana.” Yang lebih utama: ruh bertahap, latihan pembersihan, dan tumbuhnya kedekatan pada Allah—sebagai pegangan hidup.

Implementasi Praktis ala al-Husaini: Dari Hati ke Kebiasaan

Al-Husaini (dalam Rahayu, 2021) menjelaskan implementasi pendidikan spiritual berbasis sufistik lewat langkah-langkah yang terasa lebih praktis—sebagian bisa dijadikan “kurikulum kecil” di rumah atau sekolah:

  • Menggantungkan hati kepada Allah SWT dan membina hubungan erat dengan-Nya.

  • Berzikir kepada Allah SWT secara kontinyu.

  • Memperbanyak ibadah: shalat, infak, sedekah, membaca Al-Qur’an, menghidupkan malam (qiyam al-lail) yang menghidupkan hati dan membersihkan jiwa.

  • Merasakan pengawasan Allah SWT baik sendiri maupun ramai (latihan ihsan dan muraqabah).

  • Merenungi ciptaan Allah SWT (tafakkur).

  • Mencintai Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya.

  • Mencintai Rasulullah dan keluarganya.

  • Mencintai sahabat dan kaum muslimin.

  • Mengingat mati dan mempersiapkan akhirat.

Bila ini diterapkan pada remaja, kuncinya bukan memperbanyak beban, tetapi menumbuhkan rasa: rasa ditemani Allah, rasa punya arah, rasa punya tempat pulang. Saat rasa ini tumbuh, banyak gejala “gelisah tanpa sebab” mulai memiliki ruang untuk reda—meski tidak selalu hilang seketika.

Sufistik sebagai Pelengkap, Bukan Pengganti

Gambar: Doa malam sebagai latihan batin dan penguatan harap

Agar adil, kita perlu jujur: ada kondisi mental yang memerlukan pendampingan profesional yang serius. Ketika ada tanda bahaya—misalnya dorongan menyakiti diri, putus asa berat, perubahan perilaku ekstrem—keluarga perlu segera mencari pertolongan yang aman.

Dalam konteks ini, pendekatan sufistik bisa berperan sebagai:

  • bahasa awal yang membuat keluarga mau membuka percakapan,

  • jembatan agar remaja tidak alergi pada bantuan,

  • penopang agar ikhtiar medis/psikologis dijalani dengan harap, bukan rasa malu.

Dan ini sejalan dengan arah edukasi kesehatan mental yang juga ditegaskan oleh lembaga-lembaga kesehatan: literasi yang baik akan menurunkan stigma dan mempercepat pertolongan.

Penutup 

Kita sedang berhadapan dengan generasi yang hidup di zaman serba cepat: informasi deras, perbandingan sosial tanpa henti, tuntutan prestasi, dan sunyi yang kadang tak terucap. Maka, mendekatkan remaja pada jalan pembersihan jiwa—tazkiyatun nafs—bukan romantisme masa lalu. Ia bisa menjadi strategi masa depan: membangun manusia yang kuat akalnya, lembut hatinya, dan tegak adabnya.

Bersambung ke Bagian Dua: insyaAllah, bagian berikutnya bisa mengurai bagaimana pendekatan ini dirangkai lebih operasional, bagaimana menautkannya dengan praktik harian (tilawah, zikir, qiyam, tafakkur) tanpa membuat remaja merasa “dituntut sempurna,” serta bagaimana menyelaraskan spiritualitas dengan rujukan bantuan profesional ketika diperlukan.

Catatan atribusi: Tulisan ini merupakan parafrase dan pengembangan dari artikel “Peluang Pendekatan Sufistik untuk Kesehatan Mental Remaja” karya DR. KH. Saiful Falah, M.Pd.I (Pengasuh Pesantren Ummul Quro Al Islami Bogor) dengan editor Erdy Nasrul, terbit 1 Desember 2025 di Republika.

Healing with Qur’an: Liburan yang Menenangkan Hati Remaja

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Kalau kecemasan remaja sering hadir diam-diam, kadang yang paling mereka butuhkan bukan ceramah panjang—melainkan ruang untuk pulang. Ruang yang tenang. Ritme yang teratur. Dan hati yang kembali akrab dengan Al-Qur’an.

Karena itu, bila Anda punya anak usia SMP/SMA dan ingin menghadiahkan “liburan yang menyembuhkan” (bukan sekadar jalan-jalan), program Dauroh Al-Qur’an Pesantren Daarul Mutqin “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)” bisa menjadi ikhtiar yang lembut.

Yang membuatnya terasa ringan untuk keluarga:

Jika Anda ingin anak punya momen untuk menata hati, menguatkan fokus, dan dekat lagi dengan Qur’an, Anda bisa mulai dari info lengkap di Healing with Qur’an – Dauroh Al-Qur’an Daarul Mutqin.

📲 Informasi lebih lanjut:
Website: https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
WA: 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Sains dan Pendidikan.